Waspada Hepatitis B dan C, Penyakit Mematikan Tanpa Gejala

26 Juli 2017

Jumlah penderita hepatitis B dan C di seluruh dunia kini sekitar 400 juta orang. Namun, hanya 1 dari 20 orang hepatitis yang sadar dirinya terinfeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Sumber: bekiasalud.com

Hepatitis adalah peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh virus, bakteri, proses autoimun, bahan kimia dan zat berbahaya lainnya. Infeksi akibat virus, bakteri dan parasit menjadi penyebab umum hepatitis. Infeksi karena virus Hepatitis A, B, C, D atau E merupakan yang terbanyak.

Virus hepatitis adalah salah satu virus mematikan di dunia, dengan jumlah korban jiwa sebanyak korban AIDS atau tuberkulosis (TBC).

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan jurnal kesehatan, The Lancet, diperkirakan infeksi hepatitis dan komplikasinya merenggut 1,45 juta jiwa pada 2013, walaupun ada vaksin dan perawatan untuk para penderita hepatitis. Kasus kematian di dunia kebanyakan karena hepatitis B dan C yang merusak organ hati serta menyebabkan kanker hati.

 

 

Infeksi penyakit ini dapat muncul tanpa gejala yang spesifik pada awal terinfeksi. Banyak kasus, seseorang baru mengetahui dirinya mengidap hepatitis saat sudah memasuki fase kronis. Orang yang terjangkit virus ini tidak menyadari dirinya terinfeksi dan dampak jangka panjangnya, sehingga terlalu terlambat untuk penanganan.

Gejala umum hepatitis, meliputi:

  • Badan lemas, kurang gairah dan mudah capek
  • Demam
  • Kehilangan nafsu makan
  • Berat badan menurun
  • Pusing, mual dan sakit perut
  • Kulit, mata dan air seni berwarna kuning.

Dilansir depkes.go.id, di wilayah Asia Tenggara diperkirakan 100 juta orang hidup dengan hepatitis B kronis dan 30 juta orang hidup dengan hepatitis C kronis. Setiap tahun di wilayah tersebut, hepatitis B menyebabkan hampir 1,4 juta kasus baru dan 300.000 kematian. Sementara, hepatitis C menyebabkan sekitar 500.000 kasus baru dan 160.000 kematian.

 

Pentingnya Organ Hati Bagi Tubuh

Hati merupakan salah satu organ penting yang terletak di bawah rusuk, pada bagian kanan atas perut. Hati memiliki lebih dari 500 fungsi vital dalam proses metabolisme dan berbagai fungsi lain dalam tubuh.

Sumber: huffingtonpost.com

Fungsi hati, di antaranya:

  • Mengubah racun, residu obat, alkohol dan zat berbahaya yang diproduksi tubuh menjadi unsur yang dapat diterima oleh organ lain untuk dikeluarkan melalui ginjal dan usus.
  • Menghancurkan sel darah merah yang sudah tua. Proses ini yang membuat tinja menjadi berwarna cokelat. Namun bila tinja berwarna pucat atau bahkan putih atau warna urine menjadi lebih gelap, bisa menjadi pertanda adanya masalah pada organ hati Anda, salah satunya hepatitis.
  • Menguraikan hemoglobin dan hormon-hormon di dalam tubuh.
  • Memproduksi, menyimpan dan mengedarkan gula (glukosa) ke seluruh bagian tubuh.
  • Mengawasi kadar kolesterol dalam darah, mengelola dan memproduksinya sebanyak yang dibutuhkan.
  • Menyimpan asam folat, zat besi dan beberapa vitamin, seperti vitamin A, B, D dan K.
  • Memproduksi albumin untuk menjaga cairan dalam sistem sirkulasi tubuh.
  • Memproduksi protein yang dibutuhkan tubuh, termasuk zat-zat lain yang dibutuhkan untuk proses pembekuan darah.
  • Memproduksi cairan empedu yang bertugas membantu pencernaan makanan.

Sebagian orang yang sehat mungkin tidak menyadari apa fungsi hati bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, bila organ hati telah sakit, barulah mereka menyadari pentingnya organ ini. Hati sangat diperlukan oleh seseorang untuk dapat bertahan hidup.

 

Hepatitis B

Sekitar 600.000 orang meninggal setiap tahunnya karena hepatitis B akut atau kronis (jangka panjang).

Virus hepatitis B pada organ hati yang dilihat dalam mikroskop.

Sumber: bbc.com

 

Hepatitis B adalah salah satu penyakit infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). HBV yang masuk ke dalam darah akan menempel pada sel hati, berkembang biak dan menyebabkan peradangan pada hati.

Hepatitis B bisa menyebabkan kondisi akut dan kronis pada penderita. Bila sudah memasuki fase kronis, penderita hepatitis B masih bisa terlihat 'sehat', namun bila tidak segera mendapat pengobatan, penderita berisiko terkena sirosis, kanker hati, atau gagal hati.

Gejala

Gejala-gejala hepatitis B sulit dikenali dan tidak langsung terasa, bahkan ada yang sama sekali tidak muncul. Oleh karena itu, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Virus HBV biasanya berkembang selama beberapa minggu (1-5 bulan) sejak seseorang terpapar virus sampai munculnya gejala pertama.

Gejala hepatitis B, antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Nyeri perut bagian bawah
  • Warna kekuningan pada kulit dan bagian putih mata yang menguning
  • Mudah kelelahan dan nyeri pada sendi
  • Air seni berwarna lebih pekat.

Penularan

Virus hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh manusia (misalnya ludah, air seni, cairan vagina):

  • Dari ibu penderita hepatitis B kepada bayinya dalam persalinan
  • Berhubungan seksual dengan penderita hepatitis B tanpa pengaman
  • Melalui suntikan atau transfusi darah yang telah tercemar dengan HBV.

Lantas, apakah penderita dapat menularkan virus ke orang lain?

Ya, HBV dapat menular dari penderita ke orang lain, bahkan 100 kali lebih mudah dibanding virus HIV dan virus ini dapat bertahan hidup selama 1 minggu di luar tubuh. Penularan hanya terjadi melalui darah atau cairan tubuh dan tidak menular melalui makanan, minuman, kontak fisik maupun ASI.

Pengobatan

Tanpa pengobatan, hepatitis B dapat mengakibatkan dampak kesehatan yang serius, termasuk sirosis, kanker hati dan gagal hati. Namun, tidak semua penderita hepatitis B perlu memulai pengobatan dalam waktu secepatnya.

Alasan penderita menunda pengobatan biasanya karena mengalami hepatitis B akut, wanita hamil atau menyusui, alasan sosial atau pribadi penderita, atau mengalami masalah kesehatan serius, seperti penyakit jantung.

Saat ini, tersedia dua jenis pengobatan yang berbeda untuk hepatitis B kronis, yakni terapi berbasis interferon dan terapi antivirus oral.

Sedangkan untuk hepatitis B akut, dokter biasanya menyarankan penderita untuk beristirahat dan hanya memberikan obat untuk meredakan gejala, tanpa harus menjalani perawatan di rumah sakit. Penderita biasanya dapat terbebas dari gejala dan pulih dalam beberapa bulan tanpa terkena hepatitis B kronis. Namun, mereka tetap dianjurkan untuk melakukan tes darah dan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Lakukan konsultasi dengan dokter untuk menentukan pilihan pengobatan yang terbaik dan sesuai untuk Anda.

 

Hepatitis C

Di Indonesia, diperkirakan 4-5 juta jiwa menderita hepatitis C dan 75-85% dari jumlah tersebut akan berubah menjadi penyakit hepatitis kronis.

Sumber: columbian.com

Hepatitis C adalah penyakit pada organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C (HCV) yang dapat menyebabkan infeksi akut maupun kronis yang dapat diderita selama beberapa minggu hingga seumur hidup.

HCV yang memasuki aliran darah akan menempel pada sel-sel hati, memasukinya dan mulai bereproduksi. Virus HCV yang baru akan dibentuk dalam sel hati yang sudah terinfeksi dan masuk ke aliran darah, lalu melekat dan menginfeksi sel hati lainnya. Proses inilah yang memungkinkan infeksi menyebar melalui hati dan menjadikan penyakit lebih serius serta berbahaya.

Terinfeksi hepatitis C dan tidak diobati merupakan salah satu faktor terbesar terbentuknya kanker hati. Jangka waktu perkembangan infeksi hepatitis C sampai terjadi kanker hati berkisar antara 15-20 tahun, tergantung kondisi, gaya hidup, genotipe virus dan pengobatan yang dijalani.

Sebetulnya, hepatitis C bisa menjadi sangat berbahaya, namun dapat disembuhkan dengan penatalaksanaan dan pengobatan yang tepat.

Gejala

Sekitar 80% penderita tidak merasakan gejala apapun, sehingga jarang sekali orang memeriksakan HCV secara dini dan baru terdiagnosa setelah terjadi kerusakan pada hati. Sebagian penderita hepatitis C akan merasakan gejala:

 

  • Mudah kelelahan
  • Kehilangan nafsu makan
  • Demam
  • Mual dan muntah-muntah
  • Nyeri di bagian perut
  • BAB berwarna abu-abu
  • Air seni berwarna pekat
  • Nyeri pada persendian
  • Kulit dan bagian putih dari mata berwarna kuning.

Penularan

Hepatitis C tidak ditularkan melalui Air Susu Ibu (ASI), makanan atau minuman, atau kontak fisik seperti memeluk, mencium atau berbagi makanan dan minuman dengan orang yang terinfeksi.

HCV ditularkan melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, misalnya dalam alat suntik, pisau cukur, dan jarum tato yang tercemar. Penggunaan instrumen medis yang terkontaminasi dan aktivitas seksual yang tidak terproteksi juga bisa menjadi faktor risiko penularan.

Pengobatan

Pemeriksaan hepatitis C harus dilakukan dengan seksama sebelum memulai pengobatan untuk mengetahui penanganan yang paling tepat bagi penderita. Bila dokter memutuskan bahwa pengobatan diperlukan, tujuan dari pengobatan hepatitis C adalah kesembuhan. Tingkat kesembuhan tergantung jenis virus dan jenis pengobatan yang dilakukan.

Standar pengobatan hepatitis C saat ini adalah kombinasi terapi anti virus pegylated interferon (interferon pegilasi) dan ribavirin, yang diakui WHO efektif melawan semua genotipe virus hepatitis.

Kombinasi yang dikenal dengan dual terapi ini dapat memberikan tingkat kesembuhan hingga 95% untuk jenis-jenis virus tertentu, bahkan dapat mencapai 98% untuk kasus-kasus tertentu. Namun, tidak semua pasien cocok menjalankan terapi tersebut, meski sebetulnya dapat menyelamatkan jiwa mereka. Durasi terapi standar adalah 24 minggu dan 48 minggu, sesuai jenis virus.

 

Menyikapi Hepatitis B dan C

Sumber: availclinical.com

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko hepatitis B dan C, di antaranya:

  • Periksakan diri Anda sesegera mungkin apabila Anda termasuk orang yang berisiko tinggi terkena virus hepatitis B dan C. Misalnya, tenaga medis, memiliki keluarga yang menderita penyakit hepatitis walaupun tidak serumah, pernah menerima transfusi darah, pernah melakukan tato/ tindik dan para ibu hamil.
  • Lakukan vaksinasi. Untuk hepatitis B sudah tersedia vaksin, sedang hepatitis C belum ada vaksin.
  • Lakukan pola hidup sehat
  • Konsumsi makanan dan minuman yang seimbang. Lakukan diet sehat antara karbohidrat, lemak, dan protein
  • Makan dan minum dari sumber yang bersih
  • Hindari berbagi penggunaan barang-barang pribadi dengan penderita hepatitis, misalnya alat cukur atau sikat gigi
  • Hindari mengonsumsi alkohol
  • Hentikan merokok
  • Lakukan aktivitas olahraga ringan, seperti jalan kaki, berenang, yoga, dll.
  • Gunakan obat dan suplemen alami dengan hati-hati. Penggunaan obat dan suplemen tanpa perhitungan akan memperberat kerja organ hati yang telah terinfeksi.

*             *             *

Intinya, bila seseorang telah terinfeksi virus hepatitis B dan C, pengobatan harus dijalani secara konsisten dan penuh komitmen. Anda harus mengikuti semua petunjuk dokter agar peluang untuk sembuh semakin besar. Lakukan konsultasi secara berkala untuk memantau respons terapi serta perjalanan penyakit Anda.

 

 

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
14 Desember 2017
SAFETY STORY: Prinsip, Oh Prinsip
Walau dihadapkan pada pekerjaan yang menumpuk dan janji di penghujung hari yang mesti dipenuhi, Baihaki tetap melakukan semua pekerjaan dengan baik. Tidak asal-asalan.

7 Desember 2017
SAFETY STORY: Kehilangan Terbesar
Beberapa waktu kemudian, gas itu memenuhi tangki nomor 2 hingga keluar menuju ujung pipa yang sedang coba disambungkan oleh Mas Tri.

5 Desember 2017
6 Tahapan yang Tidak Boleh Diabaikan Dalam Penerapan Manajemen Risiko di Perusahaan
Pada dasarnya manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun kecelakaan kerja.

30 November 2017
Heat Stress, Penyakit Mematikan Akibat Paparan Panas Ini Penting Diwaspadai Pekerja!
Efek penyakit akibat panas yang paling fatal adalah heat stroke. Bila dibiarkan tanpa penanganan yang serius, kondisi ini bisa mengancam jiwa pekerja.

23 November 2017
SAFETY STORY: Berenang di Kolam Hiu
Aku ingin memastikan, apakah benar dia bisa mengerjakan pekerjaan Bagus atau dia melakukannya agar dianggap rajin saja oleh mandor kami.