6 Tahapan yang Tidak Boleh Diabaikan Dalam Penerapan Manajemen Risiko di Perusahaan

5 Desember 2017

Tujuan manajemen risiko adalah untuk meminimalkan kerugian dan meningkatkan kesempatan atau peluang di perusahaan. Pada dasarnya manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun kecelakaan kerja.

Sumber: udemy.com

Risiko selalu ada pada setiap tingkatan jabatan maupun proses operasi perusahaan. Dalam kegiatan operasi perusahaan, risiko akan selalu mengancam sehingga bisa memengaruhi tujuan atau sasaran perusahaan yang berakibat kerugian finansial, kerugian waktu, hingga kecelakaan kerja. Bila dibiarkan, hal ini bisa mengakibatkan usaha perusahaan berjalan statis dan berakhir pada kehancuran bisnis itu sendiri.

Risiko adalah peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak terhadap sasaran, diukur dengan hukum sebab akibat. Standar AS/ NZS 4360

Identifikasi risiko, penilaian risiko, analisis risiko hingga pengendalian risiko perlu dilakukan agar kerugian atau kecelakaan kerja dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Inilah yang dinamakan manajemen risiko.

Peran Penting Manajemen Risiko 

Apa itu manajemen risiko? Mengapa manajemen risiko penting dilakukan perusahaan? Konsep manajemen risiko awalnya dikenal di bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada tahun 1980-an setelah berkembangnya model teori kecelakaan kerja yang dikeluarkan ILCI (teori ILCI Loss Causation).

Manajemen risiko haruslah menjadi bagian penting dari pelaksanaan sistem manajemen sebuah perusahaan. Manajemen merupakan bagian yang tidak berdiri sendiri dan tidak terpisahkan dari kegiatan proses organisasi/ perusahaan dalam mencapai tujuan atau sasaran.

Manajemen risiko adalah suatu upaya pengelolaan risiko secara komprehensif, terencana dan sistematis guna mencegah terjadinya kerugian atau kecelakaan kerja dan membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik dengan melihat risiko dan dampak yang dapat ditimbulkan.

 

 

Secara tidak langsung, manajemen risiko juga memberikan perbaikan dalam aspek keselamatan, kesehatan kerja, kepatuhan terhadap peraturan perundangan, perlindungan lingkungan hidup, persepsi publik, kualitas produk, tata kelola perusahaan (corporate governance), efisiensi operasi, dan lain-lain.

Berikut manfaat penerapan manajemen risiko di perusahaan:

  • Melindungi pekerja dan bisnis dari kerugian atau kecelakaan kerja
  • Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang mengandung bahaya
  • Meminimalkan biaya kerugian untuk penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan
  • Memberikan rasa aman untuk para pemegang saham mengenai kelangsungan dan keamanan investasinya
  • Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai risiko operasi bagi setiap unsur dalam organisasi
  • Memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku.

Tahapan Penerapan Manajemen Risiko yang Efektif di Perusahaan

Dalam menerapkan manajemen risiko di bidang K3, ada beberapa tahapan atau langkah yang perlu Anda lakukan. Tahapan ini bertujuan agar proses manajemen risiko K3 di perusahaan Anda berjalan cepat, tepat dan efektif.

Sumber: verticalam.com.au

1. Menentukan Konteks

Penetapan konteks dari manajemen risiko harus dilakukan pertama kali agar proses pengelolaan risiko tidak salah arah dan tepat sasaran. Penetapan konteks memudahkan Anda mengidentifikasi dan melakukan tahapan-tahapan selanjutnya.

Penetapan konteks meliputi:

  • Konteks eksternal dan internal, menggambarkan lingkungan eksternal dan internal di mana perusahaan beroperasi dan mengupayakan sasaran yang ditetapkan.
  • Konteks manajemen risiko, perusahaan perlu menetapkan tujuan, strategi, ruang lingkup dan parameter dari aktivitas atau bagian dari perusahaan di mana proses manajemen risiko harus dilaksanakan dan ditetapkan.
  • Menentukan kriteria risiko, didapat dari kombinasi kriteria tingkat kemungkinan dan keparahan.

    a. Nilai Tingkat Kemungkinan

    b. Nilai Tingkat Keparahan

    c. Skala Tingkatan Risiko

Penetapan konteks ini biasanya mengacu pada beberapa hal, di antaranya visi dan misi perusahaan, Rencana Jangka Panjang (RJP), Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), dan Key Performance Indicator (KPI).

2. Melakukan Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko dilakukan sebagai langkah untuk mengenali atau untuk menjawab pertanyaan apa saja risiko yang dapat terjadi, bagaimana dan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Identifikasi risiko bertujuan untuk mengetahui semua sumber bahaya  dan aktivitas berisiko pada suatu kegiatan kerja atau proses kerja tertentu.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam identifikasi risiko antara lain:

  • Membuat daftar risiko secara lengkap dari berbagai kejadian yang dapat berdampak pada setiap elemen kegiatan
  • Mencatat faktor-faktor yang memengaruhi risiko yang ada secara rinci
  • Membuat skenario proses kejadian yang akan menimbulkan risiko berdasarkan informasi gambaran hasil identifikasi.

 

Hasil identifikasi risiko nantinya akan memberikan gambaran mengenai konsekuensi dan probabilitas dari risiko yang ada untuk menentukan tingkat atau level risiko pada tahap analisis. 

3. Penilaian Risiko

Tahapan ini dilakukan melalui proses analisis risiko dan evaluasi risiko. Analisis risiko dilakukan untuk menentukan besarnya suatu risiko dengan mempertimbangkan tingkat konsekuensi (keparahan) dan kemungkinan yang dapat terjadi untuk mengambil tindakan pengendalian.

Untuk menentukan tingkat atau level risiko, Anda dapat melakukan penilaian menggunakan matriks sesuai standar AS/ NZS 4360 di bawah ini:

Matriks Risiko

Keterangan:

Extreme High Risk (E): Sangat berisiko, dibutuhkan tindakan secepatnya

High Risk (H): Risiko tinggi, dibutuhkan perhatian dari manajemen puncak

Medium Risk (M): Risiko sedang, tanggung jawab manajemen harus spesifik

Low Risk (L): Risiko rendah, ditangani dengan prosedur rutin

 

Sebagai tindak lanjut dari penilaian risiko perlu dilakukan evaluasi risiko. Tujuannya untuk melihat apakah risiko yang telah dianalisis dapat diterima atau tidak dengan tingkat/ level risiko sesuai kriteria standar yang digunakan, di mana selanjutnya akan masuk pada pertimbangan tahapan pengendalian.

4. Pengendalian Risiko

Pengendalian risiko merupakan tahapan paling penting sebagai penentu keseluruhan manajemen risiko. Pengendalian risiko adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya risiko. Pengendalian risiko dapat dilakukan dengan cara:

  • Eliminasi, risiko dihindarkan dengan menghilangkan sumber bahaya
  • Substitusi, mengganti bahan, alat atau cara kerja dengan yang lain sehingga kemungkinan kecelakaan dapat diminimalkan
  • Pengendalian engineering, mengurangi risiko dengan melakukan rekayasa teknik pada alat, mesin, infrastruktur, lingkungan dan atau bangunan
  • Pengendalian administratif, mengurangi kontak antara penerima dengan sumber bahaya. Contohnya: rotasi dan penempatan pekerja, perawatan secara berkala pada peralatan, dan monitoring efektivitas pengendalian yang sudah dilakukan
  • Alat Pelindung Diri (APD), mengurangi risiko dengan menggunakan APD seperti helm keselamatan, masker, sepatu keselamatan, pakaian pelindung, kacamata keselamatan dan lain-lain.

5. Pemantauan dan Tinjauan Ulang

Pemantauan selama pengendalian risiko berlangsung perlu dilakukan minimal setiap tiga bulan (tergantung kebijakan perusahaan)  untuk mengetahui efektivitas dan berbagai perubahan yang dapat terjadi. Berbagai perubahan atau tindakan pengendalian yang kurang efektif kemudian akan ditinjau ulang untuk selanjutnya dilakukan perbaikan. 

6. Komunikasi dan Konsultasi

Hasil manajemen risiko harus dikomunikasikan dan diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan sehingga akan memberikan manfaat dan keuntungan bagi semua pihak. Pihak berkepentingan yang dimaksud adalah manajemen, pekerja, pemasok, kontraktor dan masyarakat sekitar aktivitas perusahaan.  Dengan mengetahui dan memahami semua risiko yang ada di lingkungannya, maka semua pihak akan bertindak dengan hati-hati dan mengutamakan keselamatan dalam aktivitasnya.

Ingatlah, pada kenyataannya tidak ada perusahaan yang kebal akan risiko, akan tetapi perusahaan bisa mencoba menghadapi risiko tersebut. Manajemen risiko akan membantu Anda menemukan kesempatan atau peluang sebanyak-banyaknya guna menghindari atau meminimalkan kerugian perusahaan. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat yang optimal jika diterapkan sejak awal kegiatan.

Semoga Bermanfaat, Salam safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
18 Oktober 2018
SAFETY STORY: Belajar Mencuci Tangan dengan Benar
Pertama, basuh tangan, tuangkan sabun, dan gosok telapak tangan sambil meratakan sabun ke seluruh permukaan tangan. Kedua, gosok bagian punggung tangan secara bergantian. Ketiga, gosok sela-sela jari.

11 Oktober 2018
Tidak Boleh Asal Pakai, Ini Cara Tepat Menggunakan Earmuff!
Dibanding earplug, earmuff dapat memberikan perlindungan lebih besar dan lebih konsisten. Dari segi penggunaan, earmuff lebih mudah digunakan dan disesuaikan, umumnya lebih tahan lama daripada earplug.

8 Oktober 2018
Bagaimana Cara Membuat Laporan Kecelakaan Kerja yang Benar? Ini 5 Langkah yang Tidak Boleh Diabaikan
Kecelakaan kerja baik kategori minor maupun mayor harus dicatat, dilaporkan dan dibuat laporannya untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki tindakan pencegahan kecelakaan terbaru dan risiko terjadinya kecelakaan serupa terulang kembali dapat diminimalkan.

4 Oktober 2018
SAFETY STORY: Hemat Energi untuk Bumi yang Lebih Baik
Menurut riset, gedung perkantoran termasuk salah satu pengonsumsi listrik terbesar

1 Oktober 2018
Kelelahan Ekstrem Akibat Kerja (Fatigue), Apa Efeknya Bagi Pekerja dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
Hampir 40 persen pekerja di Amerika Serikat melaporkan bahwa mereka mengalami kelelahan akibat kerja, yang berdampak pada penurunan produktivitas, peningkatan kecelakaan kerja dan peningkatan angka absensi. – National Safety Council (NSC)