SAFETY STORY: Safety Bukan Pilihan

11 Januari 2018

Safety Bukan Pilihan

Siapa sih orang yang mau kehilangan penglihatan? Tak akan ada. Aku jamin! Sekali pun itu hanya sebelah. Begitu pun aku. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan salah satu anugerah Tuhan yang begitu berharga ini. Tapi, Dia berkehendak lain padaku. Kehendak yang berjalan melalui jalan kecerobohan. Kecerobohan yang aku ciptakan sendiri.

Aku masih mengingatnya dengan jelas. Kejadian itu terjadi pada awal bulan Februari. Saat itu, waktu hampir memasuki jam istirahat. Untuk bisa segera istirahat, aku diwajibkan untuk membereskan pekerjaanku terlebih dahulu. Untuk membereskannya, aku perlu alat yang disebut gerinda tangan.

Tanpa babibu, aku mengambil sebuah gerinda tangan berwarna kuning dari tempat perkakas. Namun saat hendak dipakai, seorang rekan kerja berkata bahwa batu gerinda pada gerinda yang akan aku pakai itu kemungkinan sudah rusak.

“Tadi sempat aku cek. Kayaknya ada keretakan. Mending diganti dulu,” ucapnya sambil memotong besi menggunakan gerinda tangan lainnya.

Aku cek dengan seksama. Memang ada sedikit keretakan pada batu gerinda tersebut. Cukup kecil dan tidak begitu terlihat jelas jika tidak diperhatikan dengan baik. Tapi, karena gerinda itu hanya aku perlukan sebentar saja, maka aku putuskan untuk tetap memakainya.

“Aku pakai aja, ya. Retaknya dikit ini, kok,” ujarku pada rekan kerja. Dia sepertinya tidak mendengarkan. Mungkin suaraku tenggelam dalam bising gerinda yang sedang dipakainya.

Aku pun mulai menyalakan alat itu. Namun, tak sampai puluhan detik sejak dinyalakan, lempengan batu gerinda itu pecah. Salah satu potongan grinding wheel dengan kecepatan yang luar biasa kemudian melesat ke arah wajahku. Tepatnya, ke arah mata sebelah kanan. Kejadiannya berlangsung serba cepat tapi menyebabkan kehilangan yang akan berlangsung lama, seumur hidupku.

Dari kejadian yang merenggut penglihatan mata kananku ini, sedikitnya aku menyadari ada tiga kecerobohan utama yang telah diperbuat. Pertama, aku telah mengabaikan potensi bahaya yang ada, yaitu keretakan pada batu gerinda. Keretakannya memang kecil. Tidak begitu kentara. Bahkan jika aku ketuk-ketuk lempengannya pun, kemungkinan besar bunyinya masih akan cukup nyaring seperti bunyi lempengan batu gerinda yang tidak mengalami kerusakan. Tapi, sekecil apapun potensi bahaya, ternyata tetap saja akan menjadi bahaya yang besar jika dibiarkan.

Ke-dua, aku menggunakan gerinda tangan yang tidak mempunyai pelindung. Ya, selain memakai gerinda yang batunya retak, saat itu aku pun menggunakan gerinda yang tidak berpelindung. Tentu saja ini sangat fatal. Kalau saja pelindung itu terpasang pada tempatnya, aku rasa kejadiannya tidak akan separah ini. Kalau saja aku memakai gerinda yang mempunyai pelindung, pecahan batu gerindanya mungkin saja tidak akan mengenai wajahku. Mungkin dia akan melesat ke arah lain.

Ke-tiga, tentu saja karena aku tidak memakai Alat Pelindung Diri yang baik saat melakukan pekerjaan itu. Jangankan memakai APD lengkap hingga alat pelindung telinga atau masker, memakai face shield disertai kacamata safetysaja tidak. Yang aku ingat, aku hanya menggunakan sarung tangan. Sudah, hanya itu saja.

Aku tidak tahu kenapa hal bodoh ini aku lakukan. Yang pasti, aku sering melihat kalau rekan-rekan kerjaku yang lainnya pun tidak begitu mengindahkan soal penggunaan Alat Pelindung Diri ini. Jadi, aku pun melakukan hal yang sama. Bahkan, salah satu rekan kerjaku yang terbilang senior pun beberapa kali terlihat tidak menggunakan face shield saat melakukan pekerjaan menggunakan gerinda. Jadi, aku kira itu semua baik-baik saja.

Namun, aku pun tidak ingin menyalahkan mereka. Yang terpenting, kejadian yang menimpaku ini bisa menjadi preseden dan pembelajaran berarti, baik untuk diriku sendiri maupun untuk rekan kerja lainnya. Dengan ini, semoga kami tidak perlu menunggu terjadinya kecelakaan agar tahu arti pentingnya keselamatan.

“Safety bukan pilihan, safety adalah keharusan.” Begitu kata orang. Dulu, aku merasa kalimat itu berlebihan, lebay. Namun kini, aku pun mengerti. Menjaga keselamatan saat bekerja adalah satu-satunya jalan. Tidak ada pilihan lain. Kalau pun ada, jalan itu pasti akan berakhir pedih. Contohnya seperti yang aku alami ini, kehilangan fungsi dari salah satu bagian tubuh yang paling berharga.

 

Semoga menginspirasi, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id

 

 

 




Baca juga
20 September 2018
SAFETY STORY: Waspada pada Bahaya Gempa
Untungnya, gempa ini memang bukan tergolong gempa besar yang dapat merobohkan tembok atau bangunan. Tidak ada kerusakan yang signifikan. Hanya saja, beberapa barang tampak terjatuh dari tempatnya.

13 September 2018
SAFETY STORY: Pertolongan Pertama yang Keliru
Mengoles luka bakar dengan pasta gigi bisa menutupi kulit dan menghambat cairan yang akan keluar dari dalam tubuh. Hal tersebut akan menghambat proses penyembuhan.

6 September 2018
SAFETY STORY: Gara-Gara Tidak Menerapkan 5S di Tempat Kerja
Tidak ada tempat khusus untuk menyimpan barang tertentu juga tidak pernah ada pengarahan soal ketertiban penempatan barang. Alhasil, semua karyawan menyimpan barang sesuka hati.

3 September 2018
Kurangi Kecelakaan di Jalan Raya, Pengendara Harus Paham Rambu Lalu Lintas
Dari lima negara dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi, Indonesia berada di urutan ke-4. Kurangnya perhatian kita tentang pentingnya keselamatan di jalan raya menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan

30 Agustus 2018
SAFETY STORY: Bercandalah pada Tempatnya
Dalam kadar tertentu, bercanda di tempat kerja memang baik untuk kesehatan mental karyawan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, bercanda bisa berakhir jadi bencana.