6 Elemen Penting Membangun Program Alat Pelindung Diri (APD)

9 April 2018

Setiap perusahaan perlu membuat atau memperbarui program Alat Pelindung Diri (APD) di tempat kerjanya. Tanpa program APD, upaya pengendalian bahaya di tempat kerja menjadi tidak maksimal.

Setiap tempat kerja selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan maupun keselamatan pekerja, sehingga strategi untuk melindungi pekerja sangat penting dilakukan. Pengendalian bahaya menjadi prioritas utama dalam memberikan perlindungan yang maksimal untuk pekerja.

Perusahaan perlu melaksanakan hierarki kontrol/ pengendalian bahaya. Hierarki pengendalian bahaya pada dasarnya berarti prioritas dalam pemilihan dan pelaksanaan pengendalian yang berhubungan dengan bahaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Hierarki pengendalian bahaya tersebut meliputi:

  1. Eliminasi
  2. Substitusi
  3. Rekayasa teknik
  4. Pengendalian administratif
  5. Alat Pelindung Diri (APD)

Umumnya tiga tingkat pertama adalah upaya pengendalian bahaya yang paling diinginkan/ diharapkan, namun tiga tingkat tersebut tidak selalu mungkin untuk diterapkan. Terkadang juga kondisi bahaya masih belum dapat dihilangkan atau dikendalikan sepenuhnya, sehingga APD harus digunakan pada saat melakukan pekerjaan di area berbahaya tersebut.

APD digunakan sebagai upaya terakhir dalam melindungi pekerja apabila upaya pengendalian bahaya lainnya tidak dapat dilakukan dengan baik atau tidak memungkinkan dilakukan. Namun penggunaan APD bukanlah pengganti dari upaya-upaya tersebut, tetapi digunakan sebagai upaya terakhir.

 

 

Penting untuk diingat, bahwa penggunaan APD hanya bermanfaat untuk mengurangi atau meminimalkan potensi paparan atau kontak dengan bahaya. Bahaya tidak dapat dihilangkan dengan menggunakan APD, tetapi risiko cedera dapat dikurangi.

APD harus digunakan apabila:

  • Hanya sebagai langkah sementara (jangka pendek) sebelum sistem pengendalian diimplementasikan.
  • Di mana eliminasi, substitusi, rekayasa teknik dan pengendalian administratif tidak tersedia atau tidak memadai.
  • Selama kegiatan seperti pemeliharaan, pembersihan, dan perbaikan, dimana pengendalian bahaya lain tidak layak atau efektif.
  • Selama situasi darurat.

Maka, sebuah program APD harus dibuat secara komprehensif. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan partisipasi aktif dan komitmen mulai dari tahap perencanaan, pengembangan dan implementasi dari semua tingkatan: manajemen puncak, supervisor/ pengawas dan pekerja. Semua pihak yang terlibat dalam membangun program APD harus bekerja sama untuk melaksanakan enam elemen penting berikut:

1. Survei (penilaian) K3 di tempat kerja

Melakukan survei/ penilaian K3 bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya yang ada di tempat kerja, membantu Anda menentukan pengendalian bahaya dan memilih APD yang sesuai dengan bahaya yang telah diidentifikasi.

Manajer dan supervisor harus:

  • Memeriksa area kerja secara langsung untuk menemukan bahaya fisik atau mekanik yang ada di tempat kerja.
  • Memeriksa material kerja. Buatlah daftar bahan/ material yang bila kontak atau terkena paparannya bisa membahayakan pekerja dan bagaimana cara mengendalikannya. Misalnya, pekerja yang setiap harinya kontak atau terpapar bahan kimia berbahaya tentu wajib menggunakan respirator.
  • Melakukan pengamatan terhadap pekerja. Luangkan waktu untuk melihat bagaimana pekerja melakukan tugasnya, memastikan mereka tidak melakukan perilaku tidak aman yang bisa mengakibatkan cedera. Misalnya, menggunakan teknik yang tidak tepat saat menggunakan peralatan kerja.
  • Melakukan diskusi ringan dengan pekerja. Cobalah untuk menjalin komunikasi terbuka dengan pekerja dan ajukan pertanyaan untuk mengetahui seberapa aman tempat kerja mereka selama ini. Catat setiap masukan dari pekerja dan lakukan perbaikan berkelanjutan untuk menentukan pengendalian bahaya yang tepat untuk meminimalkan kecelakaan kerja.

Berdasarkan hasil survei langsung di lapangan dan berinteraksi dengan pekerja, Anda dapat mengidentifikasi bahaya apa saja yang ada di area kerja dan dapat menentukan langkah selanjutnya dalam membuat program APD.   

2. Pemilihan metode pengendalian bahaya yang tepat

Pemilihan metode pengendalian bahaya yang tepat dapat dilakukan bila bahaya sudah diidentifikasi. Metode pengendalian tersebut antara lain:

 

  • Pre-Contact

    Tujuan dari pengendalian pre-contact adalah mencegah pekerja agar tidak kontak atau terkena paparan bahaya atau menghentikan bahaya agar tidak mencapai pekerja. Metode pengendalian pre-contact meliputi: memodifikasi desain untuk menghilangkan bahaya, mengganti bahan atau mengubah proses kerja, memasang pelindung mesin atau melakukan isolasi, memasang sistem ventilasi hingga memperingatkan pekerja melalui rambu K3.

    Sementara ada bahaya yang dapat dikendalikan dan dihindari secara efektif melalui rekayasa teknik pada pre-contact, namun masih ada bahaya lain yang tidak dapat diketahui sebelum terjadi kecelakaan. Sebuah upaya menyeluruh untuk identifikasi bahaya sangat penting sehingga bahaya dapat dikurangi atau dihilangkan pada sumbernya. Bila pengendalian pre-contact tidak praktis, tidak memadai atau tidak efektif, maka pengendalian point-of-contact harus digunakan.

  • Point-of-Contact

    Tujuan pengendalian point-of-contact adalah untuk mencegah atau mengurangi dampak akibat bahaya ketika pekerja kontak atau terpapar bahaya tersebut. Bentuk pengendalian terutama dilakukan melalui penggunaan APD. APD digunakan saat pengendalian pre-contact tidak sepenuhnya efektif.

    Sebagai contoh, setelah diidentifikasi, ternyata di area kerja ditemukan bahaya jatuhan benda dari atas. Penggunaan helm keselamatan bisa bertindak sebagai upaya perlindungan terakhir jika Anda tidak bisa mencegah jatuhan benda dari atas dengan cara pengendalian lain. Bila Anda telah menerapkan tindakan pengendalian yang efektif, maka helm dapat digunakan sebagai tindakan pengendalian sementara atau cadangan.

3. Pemilihan APD yang tepat

Setiap area kerja mengandung potensi bahaya yang berbeda-beda sesuai dengan jenis, bahan dan proses produksi yang dilakukan. Pemilihan APD harus memperhatikan aspek-aspek berikut ini:

  • APD harus sesuai dengan jenis bahaya yang ada di area kerja
  • APD harus mampu memberikan perlindungan maksimal terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahaya yang dihadapi oleh pekerja
  • Berat APD hendaknya seringan mungkin dan tidak menimbulkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan saat digunakan terus-menerus
  • APD dapat digunakan secara fleksibel
  • APD tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi penggunaannya
  • APD harus memenuhi standar yang berlaku
  • Komponen APD mudah didapat guna memudahkan perawatannya.

4. Fit testing

Perlu diingat, keefektifan penggunaan APD rata-rata bergantung pada bagaimana alat tersebut pas atau sesuai saat digunakan pekerja. Misalnya, jika ukuran sepatu keselamatan terlalu besar, maka dapat menghambat mobilitas penggunanya. Sebaliknya, jika sepatu keselamatan terlalu kecil, pekerja tidak nyaman menggunakannya.

Inilah sebabnya mengapa Anda harus melakukan fit testing atau uji pengepasan. Pada saat uji pengepasan alat, pekerja sekaligus ditunjukkan cara memakai dan memelihara APD dengan benar. Program fit testing APD harus lakukan oleh orang yang kompeten. 

5. Pelatihan APD untuk pekerja

Pelatihan merupakan bagian penting dalam membangun program APD. Setelah empat elemen sebelumnya dilakukan, pengusaha wajib memberikan pelatihan kepada setiap pekerja mengenai penggunaan APD yang benar.

Pelatihan terkait APD harus mencakup:

  • Apa itu APD. Pekerja seharusnya tidak hanya melihat APD sebagai aksesori atau mungkin pekerja tidak memahami manfaat menggunakannya. Jelaskan fungsi APD secara spesifik dan tunjukkan bagaimana APD melindungi pekerja dari bahaya yang ada.
  • Bagaimana dan kapan sebaiknya menggunakan APD. Tunjukkan bagaimana menggunakan berbagai jenis APD dalam kondisi area kerja dan bahaya yang berbeda. Kemudian, mintalah pekerja untuk mempraktekkan ulang cara menggunakan APD yang benar dan kapan harus menggunakannya.
  • Bagaimana bila APD yang digunakan mengalami masalah. Agar fungsi APD dalam melindungi pekerja tetap optimal, beri tahu pekerja tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan jika APD mengalami kerusakan, sudah aus atau sudah kedaluwarsa. Misalnya, helm keselamatan yang retak harus diperbaiki atau diganti.
  • Bagaimana pemeriksaan dan pemeliharaan APD dilakukan. Pekerja harus diberi pemahaman mengenai cara melakukan inspeksi, merawat, hingga mengetahui masa kedaluwarsa APD.

Setiap pekerja baru harus mendapatkan pelatihan yang cukup mengenai APD sebelum melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Pelatihan pun dilakukan untuk pekerja lama sebagai penyegaran. Pelatihan APD perlu rutin dilakukan apabila ada perubahan di tempat kerja, paparan bahaya baru, perubahan jenis APD yang dibutuhkan atau terkait peraturan perundangan yang berlaku.

Manajemen harus mendokumentasikan data pekerja setiap kegiatan pelatihan APD selesai  dilaksanakan. Minimal tercatat nama dan tanda tangan setiap pekerja yang mengikuti pelatihan, tanggal pelatihan, dan identifikasi topik yang didiskusikan.

6. Audit program

Setiap program APD yang terlaksana harus dilakukan pemantauan dan pengukuran untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari program yang dibuat manajemen. Hal ini dapat dilakukan dengan cara audit program.

Audit biasanya melibatkan pemeriksaan APD dan memantau pekerja untuk memastikan mereka mengikuti prosedur. Manajemen juga harus melakukan peninjauan ulang agar dapat melakukan perbaikan pada aspek-aspek yang dirasa kurang maksimal atau menciptakan aspek baru untuk meminimalkan cedera dan kecelakaan kerja.

Untuk menganalisis keefektifan program Anda, lakukan pengukuran yang berkaitan dengan keselamatan. Anda bisa melakukan ini dengan melihat tingkat near miss, cedera dan tingkat keparahan cedera. Lihat apakah angka-angka ini menurun setiap tahunnya. Jika tidak, Anda mungkin perlu melakukan perbaikan program APD. Audit tahunan sangat disarankan untuk dilakukan dan untuk area kerja kategori sangat berbahaya sebaiknya ditinjau lebih sering.

*             *             *

Kebanyakan manajemen yang gagal menerapkan program APD karena ketidakmampuannya dalam mengatasi keluhan dari pekerja dalam hal penggunaan APD. Inilah mengapa keterlibatan semua pihak dalam seluruh tahapan program sangat penting. Semakin besar keterlibatan manajemen dan pekerja dalam penerapan program, semakin besar pula peluang keberhasilan program APD yang dapat dicapai. Program APD juga harus dilakukan secara berkelanjutan.

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
12 Juli 2018
SAFETY STORY: Jay dan Lift yang Terjatuh
Kali belum merasa belum puas dengan jawaban yang dilontarkan Jay. Penjelasan itu dirasa terlalu singkat untuk mendeskripsikan sebuah kejadian penyelamatan diri dari kecelakaan yang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja, bahkan cenderung mengerikan.

5 Juli 2018
SAFETY STORY: Satu Orang Seenaknya, Semua Kena Imbasnya
Sumber ledakan berasal dari tempat pengisian tabung gas oksigen. Firman, salah satu dari tiga pekerja yang saat itu bertugas mengisi oksigen pada tabung gas bertekanan tersebut diduga telah melakukan prosedur yang tidak sesuai.

28 Juni 2018
SAFETY STORY: Sekali Hilang, Lenyap untuk Selamanya
Bekerja di sebuah bengkel mesin untuk memperbaiki dan membuat kapal, membuat Yudha bekerja di antara bahaya kebisingan yang besar. Setiap saat dia terpapar kebisingan dari berbagai mesin dan alat kerja dengan intensitas lebih dari 85 dBA selama hampir delapan jam dalam sehari.

21 Juni 2018
SAFETY STORY: Oleh-oleh Lebaran untuk Bajang
Tiba-tiba Bajang merasa sangat lemas. Beberapa detik kemudian, Bajang terjatuh dan tidak sadarkan diri. Rekan-rekan kantor langsung membawanya ke rumah sakit.

14 Juni 2018
SAFETY STORY: Hari Pertemuan Sekaligus Perpisahan
Motor Lantip yang melaju cukup kencang di sisi kiri lambat laun mengarah ke tengah. Hal itu tidak disadari karena dalam waktu sepersekian detik, Lantip ternyata tertidur. Di saat bersamaan, sebuah mobil berkecepatan tinggi menyalip. Mobil itu melewati motor yang dikendarai Lantip sambil membunyikan klakson.