SAFETY STORY: Malapetaka Tangga

29 Maret 2018

Malapetaka Tangga

“Geser tangganya pelan-pelan saja!”

“Iya, Pak.”

“Awas! Kepala dan lehernya jangan dipegang, apalagi digeser. Sudah biarkan saja begitu sampai ambulans datang.”

Setelah dibawa ke IGD dan semaput hampir dua jam lamanya, orang itu akhirnya bangun. Dia mencoba menengok ke kanan dan kiri, tapi kepala dan lehernya tampak sulit untuk digerakkan. Alhasil, hanya kedua bola matanya saja yang bergerak-gerak menyusuri berbagai arah. Sejurus kemudian dia memegangi kepala sembari meringis.

“Kepala kamu masih sakit?” tanyaku penasaran. Dia tidak merespons.

“Gimana lehernya?” imbuhku.

“Kaku,” jawabnya kemudian. Tangannya kini berpindah memegangi leher sebelah kanan.

“Saya juga merasa pusing dan ingin muntah,” tambahnya.

Seturut keterangan dokter yang tadi menanganinya, cedera kepala yang dialami orang itu cukup serius. Namun, untuk mengetahui keadaannya lebih lanjut, dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke ahli syaraf.

“Dikhawatirkan gegar otak berat,” tutur si dokter.

Dari Pandu, rekan yang saat itu tengah bekerja bersamanya, baru aku ketahui kalau orang itu bernama Cepi. Tadi dia mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga yang cukup tinggi hingga membuatnya tidak sadarkan diri.

Ketika peristiwa itu terjadi, Cepi dan Pandu sedang diminta memasang sebuah banner K3 di area pintu masuk perusahaan. Karena tempat pemasangan cukup tinggi dan banner yang hendak dipasang cukup lebar, maka keduanya menggunakan bantuan tangga untuk memudahkan pekerjaan. Masing-masing menggunakan tangga yang berbeda. Pandu menggunakan tangga biasa, sementara Cepi menggunakan step ladder alias tangga lipat.

Pemasangan banner dimulai. Pandu lebih dulu naik tangga sambil menenteng banner bertuliskan “Utamakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja” tersebut. Karena tangga yang Pandu pakai terbilang panjang, maka bertengger pada setengah dari panjangnya pun sudah mampu mencapai ketinggian yang diinginkan.

“Ambil ujungnya, Mas,” ujar Pandu sambil menggelar banner itu.

Cepi mengangguk. Dia kemudian mengambil ujung banner yang dimaksud Pandu sambil perlahan menginjakkan kaki pada pijakan tangga. Berbeda dengan tangga yang digunakan Pandu, step ladder yang dipakai Cepi tidak memiliki ketinggian yang cukup untuk mengimbangi tinggi Pandu. Maka, untuk bisa memasang banner agar sejajar, Cepi harus naik pada satu pijakan teratas tangga portabel yang digunakannya.

Segera setelah menapakkan kaki pada pijakan step ladder teratas, Cepi mulai kehilangan keseimbangan. Banner yang dipeganginya terlepas. Untung Pandu masih memegangi ujung banner satunya lagi.

“Waduh! Kaget saya, Mas Pandu. Hampir saja jatuh,” ucapnya sambil mencoba menyeimbangkan diri kembali.

“Coba kakinya jangan sampai menginjak pijakan paling atas. Mungkin bisa lebih seimbang, Mas,” saran Pandu.

“Tapi, kalau saya turunin, nanti ga nyampe buat masang banner-nya, Mas,” keluh Cepi.

“Mau cari tangga lain dulu, Mas Cepi?”

“Wah, repot Mas. Ayo kita lanjutkan saja. Kan masangnya juga ga akan lama.”

Mereka pun mencoba kembali memasang banner yang ukuran hurufnya besar-besar itu. Cepi sudah berada pada posisi siap. Pandu pun kemudian menempelkan banner di dinding dan membentangkannya agar segera dapat dijangkau Cepi.

Saat hendak meraih banner itu, Cepi kembali kehilangan keseimbangan. Step ladder yang digunakannya terguncang dengan cepat. Badannya bergoyang-goyang karena tidak ada pegangan. Sepersekian detik kemudian, dia pun terjatuh dengan posisi kepala membentur lantai.

Step ladder yang ambruk kemudian menyenggol tangga yang digunakan Pandu. Untungnya hal itu bisa diantisipasi Pandu sehingga dia tidak ikut terjatuh. Pandu meloloskan diri dari bahaya dengan melompat ke arah berlainan dari Cepi.

Dari kejadian itu, aku baru menyadari bahwa sosialisasi keselamatan penggunaan alat kerja memang ternyata belum sepenuhnya tersampaikan pada semua pihak. Padahal, informasinya sudah sangat sering digaungkan.

Contohnya saja soal penggunaan tangga portabel semacam ini. Mulai dari cara menyandarkan tangga di dinding dengan benar, larangan untuk tidak mendirikan tangga pada permukaan yang licin atau tidak rata, anjuran untuk menggunakan metode 3 titik tumpu saat naik atau turun tangga, hingga larangan untuk tidak berdiri pada anak tangga teratas step ladder semuanya sudah diinformasikan. Tapi, kecelakaan seperti ini masih saja terjadi. Artinya, para pekerja itu belum benar-benar paham atau abai pada informasi keselamatan tersebut.

Ya, aku rasa semua pihak memang harus berbenah diri. Termasuk aku sendiri sebagai orang yang diberi kepercayaan untuk memastikan semua orang selamat di tempat kerja.

Semoga menginspirasi, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id

 




Baca juga
20 September 2018
SAFETY STORY: Waspada pada Bahaya Gempa
Untungnya, gempa ini memang bukan tergolong gempa besar yang dapat merobohkan tembok atau bangunan. Tidak ada kerusakan yang signifikan. Hanya saja, beberapa barang tampak terjatuh dari tempatnya.

13 September 2018
SAFETY STORY: Pertolongan Pertama yang Keliru
Mengoles luka bakar dengan pasta gigi bisa menutupi kulit dan menghambat cairan yang akan keluar dari dalam tubuh. Hal tersebut akan menghambat proses penyembuhan.

6 September 2018
SAFETY STORY: Gara-Gara Tidak Menerapkan 5S di Tempat Kerja
Tidak ada tempat khusus untuk menyimpan barang tertentu juga tidak pernah ada pengarahan soal ketertiban penempatan barang. Alhasil, semua karyawan menyimpan barang sesuka hati.

3 September 2018
Kurangi Kecelakaan di Jalan Raya, Pengendara Harus Paham Rambu Lalu Lintas
Dari lima negara dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi, Indonesia berada di urutan ke-4. Kurangnya perhatian kita tentang pentingnya keselamatan di jalan raya menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan

30 Agustus 2018
SAFETY STORY: Bercandalah pada Tempatnya
Dalam kadar tertentu, bercanda di tempat kerja memang baik untuk kesehatan mental karyawan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, bercanda bisa berakhir jadi bencana.