Distracted Driving: Mitos dan Fakta Bahaya Mengoperasikan HP Saat Mengemudi, Lengkap dengan Regulasi

7 April 2016

Kecanggihan teknologi handphone tak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga bisa menjadi penyebab kecelakaan. Dilansir dari laman antaranews.com pada 26 Maret 2015, data dari American Automobil Association (AAA) mengungkapkan, 58 persen kecelakaan disebabkan gangguan seperti melakukan panggilan, mengirim pesan singkat, menggunakan GPS, dan aktivitas berbahaya lainnya.

Source: nhlegalblog.com

Kegiatan tersebut bisa dikategorikan sebagai distracted driving, yakni aktivitas yang akan menyita perhatian mata dan otak ketika sedang mengemudi di jalan raya. Di Indonesia, data Polda Metro Jaya

tahun 2010 menyebutkan, 30 persen penyebab kecelakaan disebabkan oleh penggunaan handphone saat mengemudi.

Ketergantungan seseorang terhadap handphone saat berkendara memang sangat berbahaya. Konsentrasi akan mudah hilang gara-gara jari jemari sibuk dengan handphone. Konsentrasi yang terpecah menjadikan pengemudi tidak memperhatikan kondisi jalan dan sekitarnya. Akibatnya, sering kali berbuntut kecelakaan.

Data dari National Safety Council , Amerika Serikat menegaskan bahwa menggunakan handphone sambil mengemudi merupakan kombinasi kegiatan yang berbahaya. Seseorang yang mengemudi sambil mengirim pesan singkat berisiko 8-23 kali mengalami kecelakaan. Sedangkan, seseorang yang mengemudi sambil menelepon berisiko empat kali mengalami kecelakaan.

Seseorang Bisa Multitasking Saat Mengemudi Itu Mitos

Mitos #1 Pengemudi bisa multitasking

Source: wikidonts.com

Fakta: Berlawanan dengan kepercayaan umum di masyarakat, kenyataannya otak manusia tidak bisa multitasking, termasuk saat mengemudi. Mengemudi sambil menerima/melakukan panggilan merupakan dua aktivitas berpikir yang memengaruhi kinerja otak. Sayangnya, masih banyak orang yang berpendapat bahwa mereka dapat melakukan keduanya secara bersamaan.

Berikut contoh sederhananya, saat seseorang berjalan sambil mengunyah permen karet, artinya ia sedang melakukan aktivitas berpikir (berjalan) dan aktivitas tanpa perlu berpikir (mengunyah permen karet), sehingga dapat dilakukan secara bersamaan. Beda halnya saat seseorang mengemudi sambil menelepon, keduanya merupakan aktivitas berpikir dan tidak bisa dilakukan secara bersamaan karena bisa merusak konsentrasi dan fokus pengemudi.

Mitos #2 Risiko pengemudi yang berbicara dengan seseorang via handphone itu sama seperti berbicara dengan penumpang lain di dalam mobil. 

Source: distracteddriveraccidents.com

Fakta: Pengemudi yang berbicara dengan penumpang dewasa lain di dalam mobil, mereka lebih ekstra hati-hati dengan sigap memasang mata dan telinga bila terdapat potensi bahaya. Penumpang dewasa cenderung bisa menyesuaikan obrolan mereka ketika kondisi lalu lintas mengalami perubahan, yang mengharuskan pengemudinya berkonsentrasi lebih. 

Sedangkan, sebuah studi dari University of Utah menemukan bahwa seseorang yang mengemudi sambil menelepon tidak menyadari akan kondisi lalu lintas di sekelilingnya. Karena berinteraksi melalui ponsel dan tidak bertatap muka langsung, lawan bicara pun tidak mengetahui kondisi lalu lintas sebenarnya, sehingga ia akan tetap melanjutkan interaksinya. Inilah sebabnya, seseorang yang mengemudi sambil menelepon memiliki tingkat risiko tinggi mengalami kecelakaan.

Mitos #3 Perangkat hands-free dapat meminimalkan bahaya penggunaan handphone saat mengemudi

Source: sonymobile.com

Fakta: Penggunaan hands-free saat mengemudi justru sangat berisiko karena gangguan ke otak sifatnya tetap. Sebuah studi dari Carnegie Mellon University menemukan, aktivitas di lobus parietalis, bagian dari otak yang berfungsi memproses gerakan visual dan bahasa, mengalami penurunan sebanyak 37 persen saat seseorang melakukan panggilan selama mengemudi.

Pengemudi yang menggunakan hands-free juga bisa mengalami kehilangan fokus penglihatan mereka terhadap kondisi jalan di sekelilingnya hingga 50 persen. Mereka seolah-olah "buta" terhadap sesuatu yang berada di wilayah pandangannya dan jelas-jelas mereka (mampu) melihatnya. Fenomena ini dikenal sebagai inattention blindness.

Mitos #4 Pengemudi yang mengoperasikan handphone memiliki reaksi lebih cepat untuk menghindari potensi bahaya dibandingkan mereka yang mengemudi di bawah pengaruh keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi

Source: mpi.mb.ca

Fakta: Ternyata fakta berbicara sebaliknya. Sebuah studi mengenai controlled driving simulator dari University of Utah menemukan bahwa pengemudi yang mengoperasikan handphone ketika berkendara memiliki waktu reaksi lebih lambat dibandingkan pengemudi di bawah pengaruh alkohol.

Untuk menghindari kecelakaan, sebenarnya ada solusi sederhana yang dapat Anda lakukan, yakni khusus pengemudi yang mengoperasikan handphone, ia dapat meminimalkan risiko bahaya dengan meletakkan handphone-nya dan tidak menggunakannya lagi selama berkendara. Sementara, pengemudi yang mabuk tetap berisiko mengalami kecelakaan sampai kondisi fisik mereka pulih kembali atau kondisi tidak mabuk.

Mengemudikan Mobil Sambil Menggunakan Handphone Bisa Dipenjara?

Source: myrecordjournal.com

Tak hanya berbahaya dan mengakibatkan kecelakaan, mengemudikan mobil sambil menggunakan handphone juga bisa dikenakan ancaman penjara dan denda. Berikut regulasinya:

Undang-Undang No.22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 283 menyebutkan:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).”

Sementara pada Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang No.22 Tahun 2009 sendiri berisi:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.”

Tidak ada salahnya menahan diri untuk tidak sibuk dengan handphone saat Anda berkendara. Saat berada di jalan raya, tetaplah berkonsentrasi dan fokus terhadap kondisi di sekitar Anda. Sebaiknya lakukan beberapa tips berikut agar Anda tidak menggunakan handphone saat berkendara.

  • Gunakan mode senyap/ silent mode atau matikan handphone saat berkendara.
  • Letakkan handphone jauh dari pandangan dan jangkauan.
  • Bila ada yang menelepon, pastikan Anda memberitahu lawan bicara bahwa Anda sedang mengemudi dan melanjutkan percakapannya di lain waktu.
  • Jika Anda merasa perlu untuk menerima/ melakukan panggilan atau mengirim/ membaca pesan, sebaiknya cari tempat yang aman untuk berhenti sebelum Anda menggunakan handphone. Pastikan posisi kendaraan Anda berhenti tidak mengganggu lalu lintas.
  • Meminta bantuan penumpang juga bisa dijadikan alternatif dalam menggunakan handphone saat berkendara bila dirasa benar-benar mendesak. Mintalah kepada rekan, keluarga, atau pasangan yang menjadi penumpang untuk menerima/melakukan panggilan atau mengetik/ membalas SMS sesuai arahan yang Anda berikan.

Kunci dari keselamatan saat berkendara adalah kesadaran diri dengan menjadikan keselamatan sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban saja. Jadikan keselamatan sebagai prioritas utama agar semua pengemudi sampai tujuan dengan selamat. Semoga artikel ini bermanfaat dan menggugah kesadaran kita semua.

Semoga Bermanfaat. Salam safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
20 September 2018
SAFETY STORY: Waspada pada Bahaya Gempa
Untungnya, gempa ini memang bukan tergolong gempa besar yang dapat merobohkan tembok atau bangunan. Tidak ada kerusakan yang signifikan. Hanya saja, beberapa barang tampak terjatuh dari tempatnya.

13 September 2018
SAFETY STORY: Pertolongan Pertama yang Keliru
Mengoles luka bakar dengan pasta gigi bisa menutupi kulit dan menghambat cairan yang akan keluar dari dalam tubuh. Hal tersebut akan menghambat proses penyembuhan.

6 September 2018
SAFETY STORY: Gara-Gara Tidak Menerapkan 5S di Tempat Kerja
Tidak ada tempat khusus untuk menyimpan barang tertentu juga tidak pernah ada pengarahan soal ketertiban penempatan barang. Alhasil, semua karyawan menyimpan barang sesuka hati.

3 September 2018
Kurangi Kecelakaan di Jalan Raya, Pengendara Harus Paham Rambu Lalu Lintas
Dari lima negara dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi, Indonesia berada di urutan ke-4. Kurangnya perhatian kita tentang pentingnya keselamatan di jalan raya menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan

30 Agustus 2018
SAFETY STORY: Bercandalah pada Tempatnya
Dalam kadar tertentu, bercanda di tempat kerja memang baik untuk kesehatan mental karyawan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, bercanda bisa berakhir jadi bencana.