Work-Related Stress: Stres di Era Globalisasi dan Dampak Seriusnya (PART. 01)

2 Mei 2016

Era globalisasi menuntut seseorang untuk berevolusi menjadi workaholic. Banyak pekerja di negara maju atau di kota-kota besar harus bertahan menghadapi tekanan dalam memenuhi tuntutan kerja yang lebih modern. Akibatnya, mereka harus menanggung risiko psikososial seperti meningkatnya persaingan, jam kerja lebih lama, dan dituntut untuk menghasilkan pekerjaan yang baik dalam tekanan deadline. Hal semacam inilah yang menjadi pemicu munculnya stres di tempat kerja atau work-related stress.

Contoh kasus:

John Nelson (50) berprofesi sebagai supir truk pengangkut bensin di Cumbernauld, Skotlandia. Dengan pendapatan sebesar £ 29.000 per tahun atau sekitar 548 juta per tahun, ia harus menafkahi istri dan kedua anaknya. Kehidupan modern yang serba sulit, membuat Nelson harus bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Setelah bertahun-tahun bergelut dengan profesinya, ternyata ada beberapa hal yang membuatnya merasakan stres di tempat kerja. Kebiasaan pemimpin yang selalu menyalahkan anak buah dan meningkatnya penerapan sistem kerja kontrak menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan mendalam bagi Nelson. Ia sangat khawatir akan nasib keluarganya jika sampai ia kehilangan pekerjaan karena pemutusan kontrak.

Kisah Nelson di atas memberikan gambaran bagi kita tentang bagaimana sosok pemimpin dan sistem kerja kontrak bisa membuat seseorang mengalami work-related stress dan sangat berdampak pada mental pekerja. Sebenarnya, apa itu work-related stress? Mengapa bisa berbahaya bagi pekerja dan perusahaan? Apa saja gejalanya dan bagaimana cara mengatasinya?   

Definisi Work-Related Stress

Menurut WHO, work-related stress atau stres di tempat kerja adalah sebuah respons yang ditimbulkan karena dihadapkan pada tekanan dan tuntutan kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan seseorang, sehingga orang tersebut tidak dapat mengatasinya.

Source: realbuzz.com

Stres di tempat kerja juga berarti suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seseorang. Bila seseorang (pekerja) mengalami stres yang terlalu besar, maka dapat mengganggu kemampuan orang tersebut untuk menghadapi lingkungan dan pekerjaannya.

National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) mengungkapkan beberapa data mengenai pekerja dan work-related stress, di antaranya:

  • 40% pekerja melaporkan bahwa beban pekerjaan bisa membuat mereka stres.
  • 25% pekerja mengakui bahwa pekerjaan merupakan faktor utama penyebab munculnya stres.
  • 3/4 dari pekerja percaya bahwa work-related stress saat ini lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya.
  • 29% dari pekerja merasakan stres ringan saat satu tahun pertama bekerja.
  • 26% pekerja memiliki emosi tidak stabil atau mudah marah akibat tekanan pekerjaan.
  • Stres di tempat kerja bisa berdampak pada kesehatan dan kondisi ekonomi seseorang.

Penyebab Work-Related Stress

Berikut penyebab work-related stress (Psychosocial Hazard):

Kategori

Sumber Stres

Penyebab umum stres di tempat kerja

  • Work load yang tinggi atau bahkan tidak melakukan apa apa karena work load terlalu rendah
  • Tugas-tugas yang terasa tidak bermakna (tidak menyatu dengan tugas yang diberikan)
  • Tidak diikutsertakan dalam decision-making (misalnya, kemampuan untuk membuat keputusan sendiri tentang pekerjaan kita sendiri)
  • Shift kerja atau jam kerja
  • Kemampuan yang tidak cocok dengan tuntutan pekerjaan
  • Kurangnya apresiasi dari atasan
  • Lingkungan fisik (misalnya kebisingan, kualitas udara, fasilitas, dll.)
  • Pekerjaan yang monoton dan pasif
  • Kurangnya inovasi dalam pekerjaan
  • Pekerjaan yang selalu dikejar oleh deadline
  • Tidak bisa bergaul dengan rekan kerja

Organisasi

  • Tuntutan atau tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan benar
  • Tekanan atas fungsi dari peran tertentu dalam organisasi
  • Peran tidak jelas di suatu perusahaan
  • Peraturan berlebihan dan tidak adil serta kurangnya partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan
  • Pola komunikasi yang buruk (misalnya antara direktur dengan manajer, sesama manajer, manajer dengan pekerja, atau sesama pekerja )
  • Gaya manajemen tidak jelas atau bahkan otoriter
  • Pemimpin bersifat tidak terbuka dan kurang menanggapi saran dari bawahannya

Pengembangan karier

  • Kurangnya kesempatan promosi
  • Peluang pengembangan karier
  • Kurangnya tugas atau pekerjaan yang harus dilakukan

Hubungan di tempat kerja (interpersonal)

  • Supervisor (konflik atau kurangnya dukungan)
  • Rekan kerja (konflik atau kurangnya dukungan)
  • Ancaman kekerasan, pelecehan, dll.
  • Kurangnya kepercayaan dalam satu tim
  • Kurangnya motivasi dari atasan

Tahapan dan Gejala Stres, Berada pada Fase Manakah Anda?

Berikut tahapan, gejala, dan tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi work-related stress:

Tahapan

Gejala

Tindakan

Tahap 1- Peringatan

Pada tahap ini, seseorang biasanya akan mengalami perubahan emosional dalam dirinya daripada dampak secara fisik. Biasanya hal ini akan dialami seseorang yang telah bekerja selama satu tahun atau kurang.

  • Perasaan cemas
  • Depresi
  • Mudah bosan
  • Apati (keadaan cuek atau acuh tak acuh; di mana seseorang tidak tanggap atau "cuek" terhadap aspek emosional, sosial, atau kehidupan fisik)
  • Kelelahan emosional
  • Cobalah menceritakan perasaan yang Anda alami kepada orang yang Anda percayai
  • Refreshing dengan liburan akan mengurangi kejenuhan Anda
  • Mencari kegiatan baru
  • Meluangkan waktu untuk melakukan me time

Tahap 2- Stres ringan

Selama periode 6-18 bulan, gejala-gejala fisik biasanya mulai muncul.

  • Gangguan tidur
  • Sering mengalami sakit kepala dan pilek
  • Nyeri otot (misalnya nyeri punggung atas, nyeri bahu, nyeri pinggang, dll.)
  • Sering mengalami kelelahan fisik dan emosional
  • Menjadi anti sosial/ menarik diri dari lingkungan
  • Mudah marah
  • Mudah depresi
  • Perubahan gaya hidup untuk meningkatkan motivasi dan antusiasme sangat diperlukan.
  • Melakukan konsultasi jangka pendek dengan psikolog

 

Tahap 3- Akumulasi Stres

Fase ini merupakan hasil dari pengabaian dari fase-fase sebelumnya. Stres mulai berdampak serius terhadap karier, kehidupan keluarga, dan diri sendiri.

  • Meningkatnya konsumsi rokok, alkohol, dan obat-obatan
  • Depresi
  • Kelelahan fisik dan emosional
  • Munculnya jerawat
  • Konflik dalam rumah tangga
  • Mengalami perubahan suasana hati yang cepat tanpa tahu penyebabnya
  • Kecemasan berlebih
  • Sulit berpikir jernih

Konsultasi keluhan kepada psikolog atau bantuan tim medis profesional sangat dianjurkan.

Tahap 4- Debilitating Cumulative Stress Reaction/ Stres Berat

Fase ini membuat seseorang bisa "merusak diri sendiri" dan cenderung terjadi setelah 5 sampai 10 tahun mengalami stres di tempat kerja.

  • Memutuskan berhenti berkarier
  • Asma
  • Gangguan jantung
  • Depresi berat
  • Hilang kepercayaan diri
  • Ketidakmampuan melakukan pekerjaan
  • Ketidakmampuan mengatur kehidupan pribadi
  • Bersikap anti sosial/ menarik diri dari lingkungan
  • Mengalami perubahan suasana hati yang cepat tanpa tahu penyebabnya
  • Memiliki pemikiran untuk bunuh diri
  • Tremor otot
  • Kelelahan kronis akibat beban kerja
  • Agitasi
  • Pelupa dan ceroboh
  • Paranoid

Penanganan khusus dari psikolog hingga rentang waktu belum ditentukan.

Di tahun 2016 ini, work-related stress dijadikan International Labour Organization (ILO) sebagai tema kampanye Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sedunia. Dalam beberapa tahun terakhir, work-related stress telah memberikan dampak psikososial yang serius baik bagi pekerja. Tidak hanya itu saja, dampaknya juga meluas pada keselamatan pekerja dan sangat berpengaruh pada perkembangan perusahaan, terutama dalam hal ekonomi.

Work-related stress diakui sebagai isu global yang mempengaruhi semua negara, semua profesi, dan semua pekerja di negara maju dan negara berkembang. Maka dari itu, work-related stress ini dijadikan tema kampanye internasional untuk membantu semua pihak dalam mengatasi dan mencegah stres di tempat kerja. Tunggu pembahasan lebih mendalam mengenai dampak dan cara mencegah work-related stress pada artikel selanjutnya!

Selamat Hari K3 Sedunia, sobat pro safety!

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
10 Desember 2018
9 Langkah Membuat Rencana Pengelolaan Limbah Industri
Fakta menyatakan bahwa dampak limbah industri lebih berbahaya dibanding limbah domestik atau rumah tangga. Apa sajakah dampaknya dan cara pengelolaannya? Simak selengkapnya!

6 Desember 2018
Keselamatan Mengoperasikan Alat Berat, Ini yang Harus Dipahami Operator!
Pekerjaan dengan menggunakan alat berat memiliki risiko kecelakaan yang sangat tinggi, bahkan bisa mengakibatkan kematian jika tidak berhati-hati. Apa saja yang perlu dipahami untuk keselamatan di area kerja? Simak selengkapnya!

22 November 2018
SAFETY STORY: Pentingnya Melaporkan Near Miss
Saat itu, ada seorang pekerja yang hampir celaka gara-gara sebuah palu dari lantai 5 terjatuh tepat di sampingnya.

31 Oktober 2018
SAFETY STORY: Guna Alat Pelindung Kepala
Di tempat kerja yang tinggi potensi bahaya, maut itu ibarat harimau yang kelaparan di tengah hutan. Dia siap menerkam siapa saja yang lengah walau sesaat.

29 Oktober 2018
10 Langkah Efektif Mencegah Bahaya Terpeleset, Tersandung, dan Terjatuh di Tempat Kerja
Kecelakaan akibat terpeleset, tersandung, dan terjatuh menyumbang 15% kematian tidak disengaja, menempati urutan kedua setelah kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor.