Bahaya Getaran Pada Alat Kerja, Pekerja Berisiko Terkena Hand-Arm Vibration Syndrome

3 Januari 2017

Dilansir dari gsa.gov, sekitar 2,5 juta pekerja di Amerika Serikat menderita hand-arm vibration syndrome (HAVS) akibat penggunaan peralatan mekanis yang menimbulkan getaran setiap harinya di tempat kerja.

Pekerja yang tangannya terpapar alat-alat kerja yang bergetar dalam jangka waktu yang cukup lama berpotensi besar mengalami gangguan fungsi tangan, salah satunya hand-arm vibration syndrome (HAVS). Jika dibiarkan, para pekerja yang tangannya terpapar alat-alat tersebut bisa mengalami kerusakan pembuluh darah, kehilangan sensoris secara permanen, kerusakan tulang dan otot menjadi lemah.  

 

 

HAVS adalah penyakit kerja akibat getaran mekanis yang menyerang tangan dan lengan pekerja. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala vaskuler, neurologi, dan muskuloskeletal pada jari, tangan, dan lengan yang disebabkan penggunaan alat yang bergetar secara terus-menerus, seperti penggunaan bor (drill), gerinda, bor listrik, gergaji, dan alat penghancur beton (jackhammer).

 

Gejala-gejala HAVS:

Gejala vaskuler

Gejala ini dikenal sebagai fenomena Raynaud. Gejala vaskuler ditandai dengan pemucatan jari (jari-jari memutih) dan menjadi dingin, jari-jari tersebut kemudian berubah warna jadi kebiruan akibat kurangnya suplai oksigen, dan kemudian jari-jari tersebut jadi memerah. Perubahan warna ini tidak selalu dialami para penderita. Namun, keluhan tidak nyaman, jari pucat dan dingin tetap muncul.

 

Sumber: brushdestructor.com

 

Lamanya gejala bisa berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam. Gejala tersebut dapat muncul bila dirangsang oleh udara dingin atau pekerja menyentuh benda dingin. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti kesemutan, kram, atau nyeri. Nyeri pada tangan biasanya timbul pada malam hari, terkadang rasa nyeri menjalar sampai lengan bawah, siku, dan leher, serta rasa nyeri yang dirasakan bisa mengakibatkan sulit untuk menggenggam dan mengepal.

 

Gejala sensorineural

Gejala sensorineural yang timbul meliputi rasa baal dan/ atau kesemutan pada satu atau lebih jari. Tingkat gejala sensorineural yang dirasakan setiap penderita bisa berbeda. Pada gejala ringan, rasa baal atau kesemutan pada jari sifatnya hilang timbul. Namun, jika gejala berlangsung lebih dari satu jam, Anda perlu mewaspadainya.

Gejala yang dirasakan penderita bisa bertambah parah bila paparan terhadap alat bergetar terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama.

 

Mengapa pekerja bisa terkena HAVS?

Pekerja yang sehari-harinya menggunakan atau mengoperasikan peralatan atau mesin yang menimbulkan getaran berisiko besar terkena HAVS. Getaran yang berasal dari peralatan atau mesin tersebut akan ditransmisikan kepada tangan dan lengan pekerja. Bila pekerja terpapar getaran secara terus-menerus, efek getaran dapat menimbulkan gangguan atau kelainan dalam peredaran darah dan saraf, kerusakan ada persendian dan tulang, memengaruhi konsentrasi kerja dan mempercepat kelelahan.

Efek getaran yang dirasakan pekerja bisa berbeda-beda tergantung dari intensitas getaran, frekuensi getaran, dan durasi  getaran atau lamanya penggunaan alat. Semakin lama pekerja menggunakan peralatan atau mesin yang bergetar dan semakin cepat getarannya, maka semakin tinggi pula risiko pekerja tersebut terkena HAVS.

 

Siapa saja yang berisiko terkena HAVS?

HAVS biasanya dialami oleh seseorang yang bekerja di industri:

  • Konstruksi dan pemeliharaan jalan raya atau jalur kereta api
  • Konstruksi dan pembongkaran bangunan
  • Kehutanan
  • Pengecoran logam
  • Manufaktur
  • Pertambangan
  • Perakitan dan perbaikan kendaraan bermotor
  • Sarana publik (misalnya air, gas, listrik, telekomunikasi)
  • Pembuatan dan perbaikan kapal.

 

Risiko HAVS juga bisa dialami pekerja yang sehari-harinya menggunakan atau mengoperasikan alat-alat bergetar atau mesin bergetar seperti alat penghancur beton, gergaji mesin, mesin bor, mesin gerinda, impact wrench, palu/ pahat listrik, dan peralatan mekanis lainnya. 

Perlu Anda ketahui, pekerja semakin berisiko tinggi terkena HAVS jika secara rutin mengoperasikan:

  • Palu/pahat listrik atau bor listrik lebih dari 15 menit per hari
  • Mesin berputar atau penggunaan peralatan/ mesin yang bergetar lainnya selama lebih dari 1 jam per hari.

 

Mengapa HAVS bisa berbahaya?

Frekuensi getaran yang merambat melalui tangan dan lengan akibat penggunaan peralatan yang bergetar biasanya berkisar antara 20-500 Hz. Frekuensi paling berbahaya adalah pada 128 Hz. Meski begitu, frekuensi getaran antara 5-20 Hz juga sebetulnya sudah membahayakan pekerja jika penggunaan alat kerja dilakukan secara rutin dalam jangka waktu lama.

Paparan getaran pada tangan yang disebabkan peralatan atau mesin yang bergetar dalam waktu singkat memang tidak akan berpengaruh, namun dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan gangguan atau kelainan berupa:

  • Kelainan pada peredaran darah dan syaraf. Kerusakan syaraf akan mengakibatkan berkurangnya kepekaan pada motorik dan gangguan pada ketangkasan.
  • Angioneurosis jari-jari tangan. Biasanya terjadi di daerah dingin, penderita akan merasakan kebal pada jari-jari tangan saat bekerja atau sesaat setelah melakukan pekerjaan.
  • Gangguan tulang, sendi, dan otot.

 

Jika dibiarkan, HAVS bisa membahayakan hidup pekerja. Efek HAVS ini bisa menyebabkan menurunnya kualitas hidup pekerja karena penderita menjadi sulit berkonsentrasi, cepat lelah, sensibilitasnya jadi berkurang, otot menjadi lemah, kehilangan koordinasi dari tangan, keterampilan berkurang, hingga kehilangan sensoris secara permanen. 

 

Apa upaya yang harus dilakukan untuk mencegah HAVS?

Dilansir dari hse.gov.uk, ada beberapa upaya pencegahan HAVS yang bisa dilakukan pekerja di antaranya:

  • Mendesain ulang alat-alat yang bergetar untuk meminimalisasi paparan pada tangan dan lengan. Bila pendesainan ulang tidak memungkinkan, Anda bisa mengurangi efek getaran dengan cara meredam getaran (damping). Damping adalah suatu mekanisme untuk meredam getaran dengan cara menempelkan suatu sistem resonansi pada sumber getaran.
  • Gunakan alat-alat yang bergetar tidak lebih dari 2 jam (tergantung nilai percepatan getaran). Energi yang dipindahkan oleh suatu getaran tergantung pada lama pemaparan. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit akibat getaran terhadap pekerja, maka ILO tahun 1978 menganjurkan waktu pemaparan tidak lebih dari 2 jam. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai batas waktu pemaparan getaran tertuang dalam Kepmenaker No: KEP-51/MEN/ 1999 tentang nilai ambang batas faktor fisika di tempat kerja.

 

Jumlah waktu pemaparan per hari kerja

Nilai percepatan pada frekuensi dominan

(m/ det²)

4 jam dan kurang dari 8 jam

4

2 jam dan kurang dari 4 jam

6

1 jam dan kurang dari 2 jam

8

kurang dari 2 jam

12

 

Tabel batas waktu pemaparan getaran pada tangan dan lengan pekerja

 

Nilai ambang batas (NAB) getaran untuk pemaparan lengan dan tangan di atas menunjukkan bahwa semakin besar nilai percepatan getaran, maka waktu pemaparan per hari kerja yang diperbolehkan semakin kecil. NAB getaran alat kerja baik kontak langsung atau tidak pada lengan dan tangan pekerja ditetapkan sebesar 4 meter per detik kuadrat (m/ det²).

 

  • Gunakan alat-alat kerja yang tepat untuk setiap pekerjaan. Tujuannya agar pekerja bekerja lebih efisien, cepat, dan mengurangi paparan getaran pada tangan dan lengan.
  • Lakukan pemeriksaan pada alat-alat kerja secara berkala. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari peningkatan getaran yang disebabkan oleh kesalahan atau pemakaian umum dan menjaga efek getaran pada alat tetap minimum.
  • Pastikan mesin pemotong tetap terjaga ketajamannya. Sebab, alat-alat yang tumpul akan menimbulkan getaran lebih kuat dibandingkan alat-alat yang terjaga ketajamannya.
  • Lakukan istirahat  10 menit setiap jam selama menggunakan alat-alat yang bergetar. Pekerja yang menggunakan alat-alat yang bergetar perlu mengambil waktu istirahat untuk menghindari paparan getaran secara terus menerus.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan pra kerja. Pekerja yang ditempatkan pada pekerjaan yang berisiko tinggi terkena HAVS perlu melakukan pemeriksaan kesehatan pra kerja dan perlu diperiksa oleh dokter yang memahami diagnosis dan penanganan terhadap HAVS. Pekerja yang memiliki riwayat sirkulasi darah abnormal, Raynaud's Syndrome, atau pekerja yang pernah mendapat gejala HAVS sama sekali tidak boleh bersentuhan dengan alat yang bergetar apapun.
  • Gunakan sarung tangan dengan multi lapisan dan berbahan kenyal (karet, karet busa, plastik busa, wol) atau menggunakan sarung tangan anti getaran bila memungkinkan.
  • Jagalah tangan Anda tetap hangat dan kering. Bila tangan Anda basah atau dingin, segera keringkan dan gunakan sarung tangan sebelum terpapar getaran. Pekerja yang terpapar udara dingin biasanya lebih rentan terkena HAVS.
  • Hindari memegang alat-alat yang bergetar secara kuat. Semakin kuat memegang, maka semakin kuat getaran yang disalurkan ke jari-jari dan tangan. Bila memungkinkan, selain memegang dengan ringan, pekerja bisa memegangnya dengan posisi tangan bervariasi.
  • Letakkan alat-alat yang bergetar di tempat yang tepat dan operasikan hanya bila perlu dan dengan kecepatan yang minimum untuk mengurangi paparan getaran. 
  • Pastikan Anda mendapatkan pelatihan dan memahami tentang bahaya getaran dan pengendaliannya.
  • Hindari merokok bila Anda bekerja dengan alat-alat yang bergetar setiap harinya. Pekerja yang merokok lebih rentan terkena HAVS daripada mereka yang tidak merokok. Hal ini disebabkan karena tembakau dapat memengaruhi aliran darah dan pekerja yang terkena HAVS dengan merokok biasanya menderita lebih parah.
  • Lakukan langkah-langkah pengendalian yang sudah diatur oleh perusahaan untuk mengurangi risiko HAVS.

 

 

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
20 September 2018
SAFETY STORY: Waspada pada Bahaya Gempa
Untungnya, gempa ini memang bukan tergolong gempa besar yang dapat merobohkan tembok atau bangunan. Tidak ada kerusakan yang signifikan. Hanya saja, beberapa barang tampak terjatuh dari tempatnya.

13 September 2018
SAFETY STORY: Pertolongan Pertama yang Keliru
Mengoles luka bakar dengan pasta gigi bisa menutupi kulit dan menghambat cairan yang akan keluar dari dalam tubuh. Hal tersebut akan menghambat proses penyembuhan.

6 September 2018
SAFETY STORY: Gara-Gara Tidak Menerapkan 5S di Tempat Kerja
Tidak ada tempat khusus untuk menyimpan barang tertentu juga tidak pernah ada pengarahan soal ketertiban penempatan barang. Alhasil, semua karyawan menyimpan barang sesuka hati.

3 September 2018
Kurangi Kecelakaan di Jalan Raya, Pengendara Harus Paham Rambu Lalu Lintas
Dari lima negara dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi, Indonesia berada di urutan ke-4. Kurangnya perhatian kita tentang pentingnya keselamatan di jalan raya menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan

30 Agustus 2018
SAFETY STORY: Bercandalah pada Tempatnya
Dalam kadar tertentu, bercanda di tempat kerja memang baik untuk kesehatan mental karyawan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, bercanda bisa berakhir jadi bencana.