10 Penjelasan Penting Tentang MSDS yang Jarang Diketahui Pekerja

26 Januari 2017

Dilansir msdsonline.com, sebuah studi menunjukkan lebih dari 190.000 pekerja di Amerika Serikat menderita penyakit akibat paparan bahan kimia berbahaya, dan lebih dari 50.000 kematian yang terjadi setiap tahunnya disebabkan paparan bahan kimia berbahaya seumur hidup di tempat kerja.

Hampir semua bahan kimia yang digunakan dalam produksi di industri, berhubungan dengan satu atau lebih sumber bahaya bagi kesehatan atau fisik. Bila tidak segera dicegah, sumber bahaya ini dapat merugikan pekerja, lingkungan kerja, dan lingkungan di luar perusahaan.

Maka, sangat penting bagi semua industri yang kegiatannya melibatkan bahan kimia berbahaya untuk melaksanakan program komunikasi bahaya (hazard communication) secara efektif. Hal  ini penting untuk keselamatan pekerja dan mencegah timbulnya kecelakaan, cedera, dan penyakit akibat kerja.

Dari banyaknya elemen program komunikasi bahaya yang harus dilakukan, salah satu yang penting namun kerap diabaikan pekerja adalah penyediaan Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk setiap bahan kimia berbahaya. Mengapa setiap bahan kimia wajib memiliki MSDS? Siapa saja yang wajib menggunakan dan menerapkan MSDS di tempat kerja?

 

 

Semua bahan kimia berbahaya baik yang digunakan dalam produksi maupun yang ada di gudang penyimpanan wajib memiliki MSDS. Pada standar nasional, perihal MSDS ini tercantum dalam peraturan seperti Kepmenaker No. Kep. 187/ MEN/ 1999, PP No. 74 Tahun 2001, dan Peraturan Menteri Perindustrian RI No. 87/ M-IND/ PER/ 9/2009.

 

MSDS atau Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) adalah lembar petunjuk yang berisi informasi bahan kimia meliputi sifat fisika, kimia, jenis bahaya yang ditimbulkan, cara penanganan, tindakan khusus dalam keadaan darurat dan informasi lain yang diperlukan.

Dalam Hazard Communication Standard 29 CFR 1910.1200, Occupational Safety and Health Administration (OSHA) menyatakan bahwa yang bertanggung jawab membuat MSDS adalah pihak manufaktur  yang memproduksi bahan kimia berbahaya. Semua pihak-pihak yang berkaitan dengan aliran distribusi bahan kimia tersebut juga bertanggung jawab menyampaikan MSDS sampai pada pengguna. 

Pihak- pihak yang harus menggunakan dan menerapkan lembar MSDS, di antaranya:

  • Produsen bahan
  • Pihak pengangkut bahan
  • Penyimpan dan pemasok bahan
  • Pengguna bahan (industri, laboratorium dan institusi akademik)
  • Pengolah bahan buangan

 

10 Penjelasan Penting Tentang MSDS, Sudahkah Anda Memahaminya?

Sumber: msdsonline.com

 

1. Dari mana pekerja (pengguna bahan) bisa mendapatkan lembar MSDS?

Baik regulasi nasional maupun global, termasuk OSHA mewajibkan setiap manufaktur atau produsen yang memproduksi bahan kimia bertanggung jawab menyediakan MSDS untuk pengguna bahan. Mintalah MSDS kepada produsen, distributor, atau pemasok di mana Anda membeli bahan kimia tersebut. Pastikan bahwa MSDS yang Anda miliki adalah revisi terbarunya.

 

2. Mengapa MSDS diperlukan?

MSDS merupakan sumber informasi yang sangat penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau cedera saat menangani bahan kimia berbahaya. Melalui MSDS, Anda dapat mengetahui sifat-sifat bahaya bahan kimia yang digunakan, alat pelindung diri yang digunakan hingga prosedur darurat bila terjadi tumpahan, kebakaran, kebocoran, dan ledakan.  Semua informasi tersebut sangatlah penting untuk menghindari terjadinya kecelakaan bahan kimia yang bisa berakibat fatal bagi pengguna.

 

3. Informasi apa saja yang harus tercantum dalam MSDS?

Baik menurut Kepmenaker No. Kep. 187/ MEN/ 1999 maupun Sistem Harmonisasi Global (GHS), MSDS harus memuat 16 informasi sebagai berikut:

1. Identitas bahan dan nama perusahaan

2. Komposisi bahan

3. Identifikasi bahaya

4. Tindakan P3K

5. Tindakan penanggulangan kebakaran

6. Tindakan penanggulangan tumpahan dan kebocoran

7. Penyimpanan dan penanganan bahan

8. Pengendalian pemaparan dan APD

9. Sifat fisika dan kimia

10. Stabilitas dan reaktivitas bahan

 

11. Informasi toksikologi

12. Informasi ekologi

13. Pembuangan limbah

14. Informasi untuk pengangkutan bahan

15. Informasi perundang-undangan

16. Informasi lain, biasanya berisikan tanggal pembuatan MSDS, tanggal revisi MSDS terakhir, akronim/ singkatan yang digunakan di dalam MSDS, serta referensi literatur dan sumber yang diambil untuk membuat MSDS/ informasi produsen/ pemasok yang dapat dihubungi.

 

Contoh MSDS:

Sumber: cagreen.ca

 

4. Bagaimana saya dapat mengetahui jika lembar MSDS yang tersedia di tempat kerja sudah memenuhi persyaratan?

Anda dapat memeriksa apakah lembar MSDS yang dimiliki sudah sesuai dengan standar atau regulasi yang berlaku atau belum. Misalnya informasi yang tercantum di dalam MSDS (lihat poin 3) sudah sesuai dengan Kepmenaker No. Kep. 187/ MEN/ 1999, Peraturan Menteri Perindustrian RI No. 87/ M-IND/ PER/ 9/ 2009 atau GHS (standar global).

Jika MSDS yang Anda dapatkan dari produsen sudah sesuai dengan regulasi yang berlaku, hal ini berarti lembar MSDS untuk setiap bahan kimia berbahaya di tempat kerja Anda sudah memenuhi persyaratan. Ingat! Selalu perhatikan tanggal revisi terakhir dari MSDS yang Anda miliki.

 

5. Jika saya memiliki bahan kimia yang sama dari produsen berbeda, apakah saya harus menyimpan lembar MSDS dari produsen-produsen tersebut?

Iya. Seperti sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, OSHA menyatakan bahwa produsen yang terdaftar di MSDS harus bersedia bertindak sebagai penanggung jawab jika terjadi keadaan darurat saat penanganan bahan kimia.  Jadi, tidak ada salahnya jika Anda menyimpan MSDS dari masing-masing produsen.

Sangat penting bagi Anda untuk mendokumentasikan MSDS dengan baik. Hal ini memudahkan Anda untuk menghubungi kontak produsen, terutama saat terjadi keadaan darurat. Meski bahan kimia yang sama dipesan dari produsen berbeda, hal ini juga memungkinkan Anda untuk memiliki referensi lebih banyak tentang penanganan bahan kimia berbahaya.

 

6. Kapan MSDS perlu diperbaharui?

MSDS yang disediakan produsen harus akurat dan jelas saat diterima pengguna. MSDS akan diperbaharui jika terdapat informasi baru atau perubahan data yang signifikan mengenai bahan kimia berbahaya.

Informasi baru atau perubahan tersebut mencakup bahaya dari bahan kimia, data baru yang mengakibatkan perubahan klasifikasi pada kelas bahaya, atau perubahan cara perlindungan atau pengendalian terhadap bahaya dari bahan kimia yang bersangkutan.

Menurut OSHA 1910.1200 (f) (11), MSDS harus diperbaharui dalam jangka waktu tiga bulan (dan label diperbaharui dalam waktu enam bulan) terhitung produsen menerima informasi baru. Jika pengguna membeli MSDS dalam jangka waktu tiga bulan tersebut, produsen wajib memberi tahu mengenai perubahan data secara tertulis.

 

7. Bagaimana saya tahu MSDS yang saya miliki sudah diperbaharui?

Di beberapa negara seperti Kanada dan Eropa, MSDS memiliki tanggal kedaluwarsa. Maka dari itu, setiap MSDS harus mencantumkan tanggal revisi terakhir pada bagian 16 − Informasi lainnya. Anda akan mengetahui MSDS yang Anda miliki sudah diperbaharui dengan memeriksa tanggal revisi tersebut, dan membandingkannya dengan MSDS yang Anda miliki sebelumnya.

Sumber: cagreen.ca

Perlu Anda ketahui, tidak ada regulasi yang menyatakan bahwa produsen harus memberikan MSDS yang telah diperbaharui untuk pengguna bahan kimia yang dipesan dari tempat mereka. Namun, alangkah baiknya jika produsen memberitahu mengenai perubahan MSDS jika pengguna membeli bahan kimia dalam jangka waktu revisi.

 

8. Bagaimana penggunaan dan penyimpanan MSDS di area kerja?

Pertama, bahasa MSDS yang tersedia untuk setiap bahan kimia berbahaya harus mudah dimengerti dan dipahami oleh pekerja. Artinya, penggunaan MSDS dalam bahasa Indonesia memang lebih tepat mengingat sebagian besar pengguna bahan kimia di lapangan tidak semua bisa berbahasa Inggris. Meski sebagian besar MSDS berbahasa Inggris terutama bahan kimia yang di-import dari negara lain, pemasok dan importir bertanggung jawab menerjemahkan MSDS tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

Maka sebaiknya perusahaan meminta kepada pihak pemasok untuk menyediakan MSDS dalam bahasa Indonesia. Jika tidak mungkin, maka perusahaan sebaiknya menerjemahkan sendiri MSDS tersebut sebelum diberikan kepada pekerja di lapangan. Regulasi tentang penggunaan bahasa ini tercantum pada Pasal 10, Peraturan Menteri Perindustrian RI No. 87/ M-IND/ PER/ 9/ 2009, “Penulisan MSDS wajib menggunakan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia dapat disertai dengan bahasa internasional yang digunakan sebagai bahasa resmi dalam PBB.”

Kedua, setiap pekerja yang berhubungan dengan bahan kimia berbahaya harus mendapatkan pelatihan bagaimana menggunakan, membaca, memahami dan menerapkan MSDS untuk menghindari adanya kesalahan dalam penanganan bahan kimia.

Ketiga, MSDS harus dipasang dengan jelas di lokasi di mana bahan kimia yang bersangkutan disimpan atau digunakan.

Keempat, MSDS yang digunakan harus MSDS yang terbaru, maka sebaiknya Anda harus menanyakan secara berkala kepada pemasok untuk memastikan tidak ada perubahan dan jika ada perubahan, mintalah MSDS revisi terakhirnya.

Kelima, MSDS juga harus digunakan saat proses pengiriman. Jangan menyimpan MSDS di dalam kemasan bahan kimia yang dikirim, Anda dapat mengirimkannya melalui email, fax atau sistem database berbasis internet.

Keenam, semua dokumen MSDS harus didokumentasikan dengan baik. Pilihlah media yang mudah diakses, baik dalam bentuk hard copy atau soft copy.

 

9. Apa sanksi untuk pekerja yang tidak menerapkan MSDS saat menangani bahan kimia di tempat kerja?

Di Amerika, sanksi yang diberlakukan terkait penggunaan MSDS di tempat kerja sangatlah ketat. Terhitung tanggal 1 Agustus 2016, OSHA menetapkan denda sebesar $12.471 (167 juta) untuk pelanggaran serius yang melibatkan program komunikasi bahaya, tidak adanya pelatihan yang memadai, dan penggunaan MSDS.

Penggunaan MSDS yang termasuk pelanggaran serius mencakup perusahaan atau produsen tidak menyediakan MSDS, produsen tidak memberikan MSDS saat pengiriman, produsen tidak memberikan MSDS atas permintaan pengguna, dan perusahaan/ pekerja tidak menggunakan MSDS saat menangani bahan kimia di tempat kerja.

Bila pelanggaran serius secara sengaja dilakukan, perusahaan harus membayar denda $124.709 (1,7 miliar). Perusahaan mungkin hanya mendapatkan peringatan jika hanya melakukan pelanggaran kecil berdasarkan regulasi OSHA. Sayangnya di Indonesia, belum ditemukan adanya regulasi yang secara rinci menjelaskan tentang sanksi dari pelanggaran serupa di atas. 

 

10. Siapa yang bertanggung jawab terhadap MSDS di tempat kerja?

POSTER K3 AWAS KERACUNAN

Setiap pengusaha atau manajemen K3 di perusahaan bertanggung jawab untuk memastikan MSDS tersedia di area kerja yang mengandung bahan kimia berbahaya dan memastikan MSDS yang tersedia merupakan MSDS terbaru.

Pengusaha atau manajemen K3 dapat menyimpan MSDS dalam sistem komputerisasi jika:

  • Semua pekerja yang terlibat dalam penanganan bahan kimia memiliki akses dan mendapatkan pelatihan tentang cara pengoperasian perangkat
  • Penyimpanan MSDS dalam komputer/ perangkat harus tertera dalam program keselamatan B3.

 

Pengusaha juga harus menyediakan MSDS dalam versi cetak dan disimpan di lokasi yang mudah diakses di mana bahan kimia bersangkutan disimpan dan digunakan.

*             *             *

Intinya, MSDS akan memberitahu Anda informasi mengenai bahaya bahan kimia, pengendalian yang harus dilakukan, cara pengelolaan bahan kimia, hingga prosedur yang harus dilakukan jika terjadi kondisi darurat. Jadi sangat penting bagi perusahaan untuk menyediakan MSDS di area kerja dan pekerja juga wajib membaca dan memahami isi MSDS sebelum menangani bahan kimia berbahaya di tempat kerja.

 

 

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id